1 Korintus 13:4

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

Sabtu, 19 Juni 2010

Kasih

Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. 19.Kita mengasihi, karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. 20.Jikalau seorang berkata : “Aku mengasihi Allah” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, kaarena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi llah yang tidak dilihatnya. 21.Dan perintah ini kita terima dari Dia: “Barangsiapa mengasihi Allah, ia juga harus mengasihi saudaranya.”
15.Setiap orang yang membenci saudaranya adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu banwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. 16.Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, bahwa Ia telah menyerahkan njyawa-Nya untuk kita ; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. 18.Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
(I Yoh. 4:9,19-21; 3:15-16,18)
  1. Kasih memiliki pengertian yang tak terdefinisi karena kasih adalah menyangkut hal perasaan manusia terhadap manusia (Adam-Hawa) dan Manusia dengan sang penciptanya.
Rekan-rekanku yang terkasih, marilah kita mulai mengaplikasikan kasih kita secara konkret kepada sesama atau saudara yang ada di sekeliling kita sebagai wujud nyata kasih kita kepada Allah, dari hal-hal yang sederhana. Misalkan:
  • di rumah : sudahkah engkau mau mendengarkan dan menuruti nasehat orangtua, abang, atau kakakmu? sudahkah engkau rela mengorbankan sedikit waktu bermainmu dengan mau menjadi seorang pelayan yang baik dengan mengerjakan sesuatu yang bisa engkau kerjakan, seperti menyapu, mengepel, atau hal-hal lainnya?
  • di lingkungan sekolah : sudahkah engkau mendengar dan memperhatikan dengan seksama guru yang sedang mengajar? sudahkah engkau berani menegur dengan dilandasi kasih, setiap kecurangan yang dilakukan teman-temanmu (mencontek, menitip absen, membolos) atau mungkin engkau sendiri terlibat dan ikut melakukan segala kecurangan itu? Ingat bahwa kasih itu tidak berarti membiarkan apapun yang terjadi, namun juga harus berani menegur setiap kesalahan dan kecurangan yang terjadi; ada kesabaran dan ketegasan di dalamnya.
  • di lingkungan gereja : sudahkah engkau memberikan segenap kemampuan dan talentamu untuk Tuhan; seperti mengunjungi orang sakit, membantu teman yang sedang kesulitan, musik, menulis artikel, puisi, suara, tarian, dan masih banyak hal lain? sudahkah engkau rela mengorbankan sedikit waktu dan tenagamu untuk ikut mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan, dalam kepengurusan atau kepanitiaan misalkan? Ingat bahwa waktu, tenaga, dan materi yang kita miliki ini semuanya adalah pemberian Tuhan, dan terlalu kecil untuk kita bandingkan dengan pengorbanan Kristus; jadi janganlah pernah terbersit dalam pikiran kita “Kalau ada terluang waktu dan tenagaku, barulah aku bisa mengerjakan pelayanan ini.”, seolah-olah kitalah orang yang paling cape’ dan yang telah begitu banyak berkorban untuk Tuhan. Kalau demikian adanya, kapan kita bisa tahu bagaimana sulitnya mengatur waktu dan mungkin akan sulit bagi kita untuk mengalami pembentukan dan kedewasaan menjadi orang-orang yang taft atau tangguh di jaman yang mobile ini, yang terus bergerak dan mengalami perubahan dengan cepat.
  • di pekerjaan : sudahkah engkau dapat menahan lidahmu untuk tidak mmbicarakan kejelekan-kejelekan orang lain dan berusaha memilih untuk menjadi pendengar yang baik di antara teman-teman sekerjamu? sudahkah engkau rela berkorban memberikan waktu dan tenagamu untuk mengambil jam lembur, bukan demi sekedar mencari dan mendapatkan uang lembur, tetapi karena di hatimu ada keinginan untuk memuliakan Allah lewat prestasi yang engkau tunjukkan di antara teman-teman sekerjamu? sudahkah engkau berani menegur hal-hal yang tidak benar yang terjadi di kantormu atau engkau mungkin justru terlibat di dalamnya dan menjadi seorang pekerja yang berprinsip “Yes Boss” demi mencari aman dan “suksesnya” saja.
Inilah rekanku sekalian, pengorbanan dalam artian yang lebih luas yang saya maksudkan di sini, dan pasti masih banyak aspek-aspek lain yang belum disebutkan di sini, yang ternyata mencakup hampir seluruh aspek kehidupan kita, dimanapun dan kapanpun kita berada!

Kasih Allah yang kekal dan tak terbatas telah diwujudnyatakan melalui pengorbanan Kristus. Pengorbanan Kristus telah mengangkat dan menebus kita semua, kembali menjadi milik kepunyaan Allah. Kita yang sudah milik kepunyaan Allah ini, berarti bukan lagi hidup untuk diri kita sendiri, tetapi hidup untuk Allah, hidup untuk sesama; hidup seturut kehendak dan kemauan Allah. Itu berarti segenap hidup kita kini adalah pelayanan kepada Allah. Pelayanan yang sejati pasti menuntut adanya suatu pengorbanan, dan pengorbanan itu hanya dapat terwujud bila di dalamnya ada kasih yang memancarkan keberanian dan kerelaan. Amin, kiranya Tuhan Yesus Kristus menyertai kita sekalian sampai Maranatha.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar